Melihat Cara Pembuatan Kopi Goraka di Kotamobagu | Liputan 24 Sulawesi Utara
Public Speaking, Master of Ceremony
Public Speaking, Master of Ceremony
www.AlvinAdam.com

Subscribe Here!

Enter your email address. It;s free!

Delivered by FeedBurner

Melihat Cara Pembuatan Kopi Goraka di Kotamobagu

Posted by On 11:31 PM

Melihat Cara Pembuatan Kopi Goraka di Kotamobagu

19 Apr 2018 09:07 Melihat Cara Pembuatan Kopi Goraka di Kotamobagu MyPassionMANUAL: Pengolahan Kopi Goraka secara manual membuat penikmatnya tertarik mencicipi. (Claudia Rondonuwu/MP)

Kopi bagi warga Kotamobagu, menjadi bagian penting. Penjualnya mulai dari tingkat eceran hingga yang menjajakan dengan kendaraan. Tapi sesuatu berbeda disajikan Atina Lambekan. Yakni Kopi Goraka.

Laporan, Claudia Rondonuwu

BANYAK jenis kopi di Kota Kotamobagu. Masing-masing rasa memberi sensasi berbeda bagi penikmatnya. Salah satunya Kopi Goraka. Kopi ini diolah langsung dengan menyatukan antara biji kopi dan goraka (jahe, red) kemudian digiling bersamaan.

Salah satu pengolah Kopi Goraka adalah Atina Lambekan. Perempuan 50 tahun asal Desa Poyowa Besar I, Kecamatan Kotamobagu Selatan itu sudah lama meracik kopi ini. Saat ditemui di kediamannya, Atina yang akrab disapa Nenek Repi ini memperlihatkan cara pengolahan kopi. Sebelumnya bahan baku mentah kopi dibeli lebih dulu sebanyak 4 kilogram (Kg) dengan harga Rp 35 ribu perkilonya.

Nenek Repi mulai mempersiapkan bahan lainnya seperti goraka dilengkapi alat berupa wajan, sendok kayu, kemudian disangrai menggunakan api dari kayu bakar. Kopi yang disangrai terus diaduk. Agar masak merata. Setelah menunggu sekira 2-3 jam, diangkat dan didinginkan. Selanjutnya kopi didinginkan sekira 30 menit, digiling bersamaan dengan goraka yang sudah dikeringkan selama 24 jam.

“Kopi Goraka yang sudah menjadi bubuk siap dijual dengan harga relatif murah. Mulai dari 1.000 hingga 5.000. Sesuai permintaan pembeli,” ujarnya, ketika usai membuat kopi tersebut.

Dalam sehari nenek Repi dapat menghasilkan Rp 50.000 dari hasil menjual Kopi Goraka terseb ut. Meski terkesan sedikit, namun itu mencukupi kebutuhan keluarganya sehari-hari. “Selama sekira empat tahun saya menggantungkan hidup dengan jualan Kopi Goraka ini,” akunya.

Namun sayangnya, hingga sekarang dia belum mendapatkan bantuan modal dari pemerintah untuk memperluas usaha. Proses pengolahan Kopi Goraka secara manual bisa menghabiskan 2 hingga 3 jam. Hal tersebut kerap membuat ibu dua anak ini kewalahan.

Menurut dia, Kopi Goraka sudah dikenal luas di kalangan penikmat kopi. Karena selain menyajikan rasa kopi yang khas, juga menyembuhkan beberapa penyakit. Sebab proses pengolahannya dicampur dengan tumbuhan tradisional jenis goraka. "Sejauh ini sudah banyak langganan yang datang membeli di sini. Baik dari Kotamobagu maupun daerah tetangga. Tetapi belum ke luar Bolaang Mongondow Raya," ucap Ate Ilam, suaminya.

Meski prosesnya masih secara manual, namun dirinya mengaku dapat membuat Kopi Goraka sebanyak 3 hingga 4 kilogram dalam sehari. "Sehari itu sampai 3 hingga 4 kilogram kopi yang saya buat untuk dijual dengan harga relatif murah sesuai permintaan pembeli dari seribu hingga 5 ribu per bungkusnya. Memang itu belum maksimal, namun setidaknya dapat mencukupi kebutuhan sehari-hari," kata Nene Repi.

Dia berharap, dirinya mendapat sentuhan bantuan dari pemerintah untuk mengembangkan usahanya. "Tentu bantuan dari pemerintah sangat saya harapkan dalam memperluas usaha ini. Juga keperluan peralatan yang lebih baik dalam pengolahan Kopi Goraka ini," harapnya.

Terpisah salah satu warga Alfian Limpaton menambahkan, kualitas Kopi Goraka milik Nenek Repi terkenal nikmat. "Saya sebagai penikmat kopi merasakan perbedaan dengan kopi lain. Apalagi kopi ini diolah pakai jahe dengan bahan dan sajian sekedarnya," tambahnya.

Para penikmat kopi, khususnya pria pasti tidak akan menyesal apabila meminumnya. “Rasa dan aromanya terbukti khas. Saya berharap kopi Nenek Repi ini bisa s ampai keluar BMR," ungkapnya.

Terpisah, Kepala Desa Poyowa Besar I Yandi Mokoagow mengatakan, pihaknya bakal memberikan bantuan lewat dana desa tahun 2018 ini. "Memang itu sudah masuk dalam rencana Pemerintah Desa (Pemdes) mengembangkan industri di desa ini terutama Kopi Goraka lewat Badan Usaha Milik Desa (Bumdes). Kebetulan mereka membutuhkan sentuhan pemerintah dan sudah menjadi kewajiban pemerintah untuk mendorong industri kecil maupun industri menengah," pungkasnya.(***)

Berita Terkait
  • MyPassion

    19 Apr 2018 13:03 Pengurusan Izin Dipermudah

  • MyPassion

    19 Apr 2018 12:55 10 Rumah Jadi Korban Kebakaran

  • MyPassion

    19 Apr 2018 12:52 Gaji PNS Dinkes Belum Dibayar

  • MyPassion

    19 Apr 2018 12:41 Pancaroba, Warga Diminta Waspada

Sumber: Google News | Liputan 24 Kotamobagu

Next
« Prev Post
Previous
Next Post »