Waruga, Sarkofagus Historis di Utara Minahasa | Liputan 24 Sulawesi Utara
Public Speaking, Master of Ceremony
Public Speaking, Master of Ceremony
www.AlvinAdam.com

Subscribe Here!

Enter your email address. It;s free!

Delivered by FeedBurner

Waruga, Sarkofagus Historis di Utara Minahasa

Posted by On 12:49 PM

Waruga, Sarkofagus Historis di Utara Minahasa

Waruga, Sarkofagus Historis di Utara Minahasa By: Redaksi ManadopediaOn: Waruga, Sarkofagus Historis di Utara Minahasa Reviewed by Redaksi Manadopediaon.This Is Article AboutWaruga, Sarkofagus Historis di Utara Minahasa Ketika berkunjung ke Kabupaten Minahasa Utara, Sulawesi Utara ada sebuah situs bersejarah, kumpulan Waruga yang kini tujuan wisata. Ada tiga lokasi yang dijadikan tempat dikumpulkan sejumlah waruga yakni, Kelurahan Rap-Rap, Kelurahan Airmadidi Bawah dan Desa Sawangan. Namun selain lokasi tersebut, masih banyak lokasi waruga yang tersebar di seluruh wilayah Minahasa. Waruga merupakan makam leluhur orang […] Waruga, Sarkofagus Historis di Utara Minaha   sa   Relief posisi jenazah dalam waruga. (foto: ist).

Ketika berkunjung ke Kabupaten Minahasa Utara, Sulawesi Utara ada sebuah situs bersejarah, kumpulan Waruga yang kini tujuan wisata.

Ada tiga lokasi yang dijadikan tempat dikumpulkan sejumlah waruga yakni, Kelurahan Rap-Rap, Kelurahan Airmadidi Bawah dan Desa Sawangan. Namun selain lokasi tersebut, masih banyak lokasi waruga yang tersebar di seluruh wilayah Minahasa.

Waruga merupakan makam leluhur orang Minahasa yang terbuat dari batu. Waruga terdiri dari dua bagian yaitu bagian atas yang berbentuk segitiga dan bagian bawah yang berbentuk kotak.

Baca: Ingin Tahu Arti Marga Minahasa Anda? Baca Ini

Penggunaan makam batu seperti waruga mirip dengan beberapa tempat di Indonesia. Sebut saja, Sarkofagus yang ditemukan di daerah Bali, Jawa Timur, NTT, kawasan Tomok Sumatera Utara, dan masih banyak lagi.

Namun , posisi jenazah yang dikuburkan dalam waruga agak berbeda dengan sarkofagus di beberapa tempat tersebut. Jenazah di waruga mempunyai posisi yang unik. Tumitnya menempel dengan bagian pantat. Sedangkan kepala mencium lutut. Mirip posisi bayi ketika dalam kandungan.

Jenazah juga wajib dihadapkan ke arah utara. Dari beberapa literatur, hal tersebut dilakukan untuk menghormati moyang dari bangsa Minahasa yang berasal dari utara (Mongolia).

Namun dari informasi lain, posisi menghadap utara karena saat itu masyarakat masih menganut animisme. Posisi Utara berkaitan dengan Bintang Utara, bintang patokan para petani dan nelayan, pekerjaan yang mayoritas digeluti masyarakat setempat.

Penggunaan waruga diperkirakan mulai digunakan sejak abad ke-9. Ini bisa dilihat dari waruga tertua yang dibangun tahun 800-an Masehi.

Waruga bisa berisi lebih dari satu jasad. Bahkan satu keluarga bisa dimakamkan dalam satu waruga. Jumlah orang yang dimakamkan dari Waruga bisa dili hat dari garis yang tertera di bangunan waruga.

Bersama jenazah yang dimakamkan, juga sering dimasukkan alat-alat logam yang sangat lekat dengan jenazah sewaktu masih hidup. Bahkan ada juga yang memasukkan perhiasan dan barang berharga seperti keramik, kalung dan gelang.

Jenazah dalam waruga akan ditempatkan di wadah keramik lebar. Proses yang terjadi terhadap jenazah adalah pembusukan kemudian terpanggang menjadi abu, karena panas dari batu yang terpapar panas matahari.

Selain jumlah jenazah dalam waruga, ukiran di atas penutup waruga juga bisa menjelaskan pekerjaan jenazah semasa hidup. Ukuran batu waruga juga menjelaskan status sosial, makin besar batunya makin terhormat dalam masyarakat.

Jenis kelamin jenazah juga bisa terlihat dari ukiran di waruga. Posisi jari tangan perempuan mengepal, sedangkan jari laki-laki saling mengunci.

Dari relief yang terpahat dan masih bisa teridentifikasi ada beberapa dotu yang diketahui seperti Wenas, Karamoy, Kalalo, Tangkudung, Rorimpandey, Mantiri, Kojongian, Rumondor dan beberapa nama lagi.

Hal unik lain, ternyata ada jenazah warga asing dalam waruga yang ditemukan. Ada warga Portugis, Spanyol dan Jepang yang dimakamkan dalam waruga.

Pertengahan abad 19, Belanda yang waktu itu sudah menduduki Sulawesi Utara mulai melarang penggunaan Waruga. Mereka khawatir wabah penyakit seperti menyebar dari jenazah yang membusuk. Celah antara batu bawah dan atas waruga memang terdapat celah kecil.

Saat itu bangsa Eropa memang masih trauma dengan tragedi Black Death (1347 â€" 1351) yang membunuh hingga dua pertiga populasi Eropa. Wabah tersebut terus berlanjut hingga Asia pada abad 19.

Bersamaan dengan itu, Agama Kristen mulai menyebar di tanah Minahasa. Sejak tahun 1870, masyarakat akhirnya mulai menggunakan peti untuk menguburkan jenazah di dalam tanah. Sejak itu tak ada lagi penggunaan waruga di Minahasa.

Baca: Asal Nama Manado Tua, Pulau Penghias Ca krawala

Satu hal yang menarik, ketika pemindahan sejumlah waruga harus dilakukan ritual yang melibatkan tokoh adat setempat. Hal ini untuk meminta izin dari para leluhur untuk prosesi tersebut. Bahkan dalam sebuah pemindahan, perlu empat kali ritual setelah permohonan.

Saat itu permohonan pertama ditolak, barulah kemudian kedua diterima. Ritual ketiga adalah menentukan jadwal pemindahan dan yang keempat barulah proses pemindahan. Pernah terjadi ketika pemindahan waruga dilakukan tanpa ritual, terjadi beberapa hal di luar logika. Alhasil pemindahan urung dilakukan.

Peninggalan masa megalitikum masyarakat Minahasa tersebut terus mengundang minat wisatawan. Ratu Beatrix dari Belanda bahkan pernah berkunjung ke situs bersejarah tersebut.

Penulis: Efge Tangkudung

Related Posts

  • Sulut Masuk Zona Merah Pelayanan Publik
  • Pelabuhan Bitung, Dibangun Sukarno Diresmikan Fatm awati
  • Festival Natal 2017 Dimulai, Ini Daftar Acaranya
  • Tragis, Sepasang ABG Gantung Diri Bersama
  • Vernando Tulandi Juara Nasional Grasstrack Junior 2017
Sumber: Google News | Liputan 24 Airmadidi

Next
« Prev Post
Previous
Next Post »